Memulai affiliate marketing memang terlihat mudah. Tinggal memilih produk, membagikan link, lalu menunggu ada orang yang membeli. Tapi kenyataannya tidak sesederhana itu. Banyak orang sudah rajin membuat konten dan membagikan link affiliate, tetapi hasilnya tetap minim karena produk yang dipilih kurang sesuai dengan kebutuhan pasar.
Kalau ingin mendapatkan komisi dari affiliate secara lebih konsisten, pemilihan produk menjadi salah satu hal yang tidak boleh dianggap sepele. Produk yang bagus bukan hanya produk dengan harga mahal atau komisi besar, tetapi produk yang memang dicari dan dibutuhkan orang.
Lalu, bagaimana cara memilih produk affiliate yang berpeluang lebih cepat laku?
1. Pilih Produk yang Memang Banyak Dicari
Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah permintaan pasar. Jangan hanya memilih produk karena sedang viral tanpa melihat apakah orang benar-benar membutuhkannya.
Produk kebutuhan sehari-hari biasanya memiliki peluang yang cukup baik karena orang memang akan membelinya kembali ketika persediaan habis. Contohnya perlengkapan rumah, produk perawatan, aksesori gadget, kebutuhan anak, hingga berbagai produk penunjang aktivitas harian.
Semakin banyak orang yang membutuhkan suatu produk, semakin besar pula peluang terjadinya pembelian.
2. Perhatikan Harga Produk
Harga juga berpengaruh terhadap keputusan seseorang untuk membeli. Produk dengan harga terlalu tinggi biasanya membutuhkan pertimbangan lebih panjang, terutama jika calon pembeli belum mengenal produk atau penjualnya.
Untuk pemula, produk dengan harga yang masih terjangkau bisa menjadi pilihan menarik. Orang cenderung lebih mudah mencoba produk yang harganya tidak terlalu membebani.
Bukan berarti produk mahal tidak bisa dijual. Hanya saja, produk dengan harga terjangkau biasanya lebih mudah dipromosikan melalui konten singkat di media sosial.
3. Cari Produk yang Mudah Dijelaskan
Sebagai affiliate, kita perlu membuat orang memahami manfaat produk sebelum mereka tertarik membeli. Karena itu, pilih produk yang manfaatnya mudah dijelaskan melalui foto, video, atau tulisan.
Misalnya, daripada hanya mengatakan sebuah alat dapur memiliki banyak fitur, akan lebih menarik jika konten menunjukkan bagaimana alat tersebut digunakan dan masalah apa yang bisa diselesaikan.
Produk yang bisa diperlihatkan cara penggunaan dan hasilnya biasanya lebih mudah dibuat menjadi konten.
4. Cek Rating dan Ulasan Pembeli
Sebelum memasukkan produk ke dalam konten affiliate, jangan lupa melihat pengalaman pembeli sebelumnya.
Perhatikan rating, jumlah ulasan, komentar pembeli, serta foto atau video yang mereka unggah. Dari sini, kita bisa mengetahui apakah produk tersebut memang mendapatkan respons positif atau hanya ramai karena iklan.
Ulasan pembeli juga bisa menjadi bahan untuk membuat konten. Misalnya, kita dapat membahas kelebihan produk berdasarkan pengalaman pengguna tanpa harus membuat klaim yang berlebihan.
5. Pilih Produk dari Toko yang Terpercaya
Produk bagus akan sulit dipromosikan jika penjualnya memiliki pelayanan yang buruk. Karena itu, jangan hanya melihat produknya. Perhatikan juga reputasi toko.
Lihat bagaimana penjual memberikan respons, jumlah produk yang sudah terjual, rating toko, serta komentar dari pembeli.
Sebagai affiliate, reputasi toko juga ikut memengaruhi kepercayaan calon pembeli. Jika pembeli merasa toko tersebut terpercaya, kemungkinan mereka menyelesaikan transaksi juga bisa lebih besar.
6. Cari Produk yang Sedang Dibutuhkan atau Sedang Tren
Tren bisa menjadi peluang bagi affiliate marketer. Ketika sebuah produk sedang banyak dibicarakan, pencarian dan rasa penasaran terhadap produk tersebut biasanya ikut meningkat.
Namun, jangan sekadar mengejar viral.
Lebih baik mencari produk yang sedang tren sekaligus memiliki manfaat yang jelas. Dengan begitu, konten yang dibuat tidak hanya mengandalkan tren sesaat, tetapi masih memiliki alasan kuat untuk ditonton dan dibeli.
7. Sesuaikan Produk dengan Konten yang Kamu Buat
Ini sering dilupakan oleh pemula. Produk yang laris belum tentu cocok untuk semua orang.
Kalau konten yang dibuat selama ini membahas teknologi, misalnya, produk seperti kabel data, charger, earphone, aksesori smartphone, atau perangkat pendukung lainnya akan lebih masuk akal untuk dipromosikan.
Begitu juga jika konten membahas rumah tangga. Produk seperti alat kebersihan, peralatan dapur, atau perlengkapan rumah akan terasa lebih relevan bagi penonton.
Ketika produk sesuai dengan niche, promosi tidak terasa seperti iklan yang tiba-tiba muncul.
8. Jangan Hanya Mengejar Komisi Besar
Komisi memang penting, tetapi jangan sampai menjadi satu-satunya alasan memilih produk.
Produk dengan komisi besar belum tentu mudah terjual. Sebaliknya, produk dengan komisi lebih kecil tetapi memiliki banyak peminat bisa memberikan hasil yang lebih baik jika terjual berkali-kali.
Coba hitung secara sederhana: lebih baik mendapatkan komisi besar dari produk yang jarang terjual atau komisi sedang dari produk yang bisa menghasilkan penjualan secara rutin?
Di sinilah pentingnya melihat peluang penjualan, bukan hanya angka komisi.
9. Perhatikan Kualitas Konten yang Sudah Ada
Sebelum mempromosikan produk, cari tahu bagaimana orang lain membuat konten tentang produk tersebut.
Apakah produknya mudah dibuat menjadi video? Apakah ada banyak angle yang bisa digunakan? Apakah manfaatnya bisa diperlihatkan dalam beberapa detik?
Produk yang memiliki banyak ide konten biasanya lebih mudah dikembangkan menjadi beberapa video. Kita tidak harus terus-menerus membuat konten dengan konsep yang sama.
10. Tes Beberapa Produk, Jangan Terpaku pada Satu Produk
Tidak ada rumus yang menjamin sebuah produk pasti langsung laku.
Karena itu, jangan takut melakukan percobaan. Pilih beberapa produk yang masih berada dalam niche yang sama, kemudian buat konten untuk masing-masing produk.
Setelah beberapa waktu, lihat mana yang mendapatkan respons paling bagus. Produk yang menghasilkan klik, interaksi, atau penjualan lebih baik bisa mendapatkan porsi konten yang lebih banyak.
Dengan cara ini, keputusan tidak hanya berdasarkan perkiraan, tetapi berdasarkan hasil yang benar-benar terlihat.
Produk Laku Bukan Berarti Harus Viral
Satu hal yang perlu dipahami ketika menjalankan affiliate adalah produk yang cepat laku tidak selalu merupakan produk yang paling viral.
Ada produk yang terlihat biasa saja, tetapi ternyata banyak dicari karena memang menyelesaikan masalah tertentu. Produk seperti inilah yang sering kali justru memiliki peluang bagus untuk menghasilkan penjualan.
Jadi, daripada hanya mengejar produk yang sedang ramai, cobalah melihat dari sudut pandang pembeli. Apa yang mereka butuhkan? Masalah apa yang ingin mereka selesaikan? Dan apakah produk tersebut benar-benar memberikan manfaat?
Jika jawabannya jelas, produk tersebut layak untuk dicoba.
Kesimpulan
Memilih produk affiliate yang cepat laku membutuhkan sedikit riset dan percobaan. Mulailah dengan melihat kebutuhan pasar, harga, rating, reputasi toko, tren, hingga kesesuaian produk dengan niche konten yang kamu buat.
Jangan lupa, tujuan affiliate bukan sekadar mendapatkan link untuk dibagikan. Yang lebih penting adalah membantu calon pembeli menemukan produk yang memang sesuai dengan kebutuhannya.
Semakin relevan produk yang dipromosikan dengan audiens, semakin natural pula konten yang dibuat. Dari situlah peluang mendapatkan klik, penjualan, dan komisi bisa menjadi lebih besar.
0 Tanggapan
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!